Postingan

Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan

Setiap tahun, tanggal 21 April datang dengan pola yang hampir selalu sama. Kebaya dikeluarkan, sanggul dipasang, kamera dinyalakan. Sekolah dan instansi ramai dengan lomba menghias tumpeng, fashion show, hingga pemilihan “Kartini masa kini” yang tak jauh dari kata anggun, cantik, dan lemah lembut. Rapi. Meriah. Tapi ada yang terasa janggal. Bukan karena perayaannya salah, tapi karena maknanya seperti bergeser pelan-pelan, tanpa kita sadari. Kartini menulis tentang kegelisahan. Tentang ketidakadilan. Tentang bagaimana perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Ia tidak sedang memperjuangkan kebaya. Ia sedang memperjuangkan cara berpikir. Ia pernah menulis bahwa untuk menjadi beradab, pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan. Artinya, menjadi manusia utuh tidak cukup hanya terlihat baik, tapi juga harus berpikir jernih dan memiliki keberanian moral. Namun hari ini, kita justru sibuk merayakan “tampilan”. Perempuan dipuji karena anggun berjalan ...

Ritual Kecil untuk Bertahan

Besok, setelah kamu sarapan nasi dan segelas kopi, aku ingin kamu mandi dengan tenang. Tak perlu terburu. Nikmati tetesan air dengan perlahan. seolah kamu duduk di teras saat hujan turun perlahan, mendengar tiap tetesnya tanpa tergesa. Seperti menemukan jeda di antara pikiran yang biasanya berisik.  Jika sudah mandi, coba kamu pilih baju paling nyaman. Yang sudah dicuci, yang wanginya membuatmu merasa pulang, meski kamu tak benar-benar pergi ke mana-mana. Lalu pilih parfum yang aduhai, tidak terlalu menyengat, seperti wangi sabun yang tertinggal pelan di kulit selepas mandi. Kamu juga bisa gunakan minyak kayu putih atau telon jika mau. Segala yang membuatmu lebih rileks dan tidak tegang. Lalu pergilah ke dekat kasur. Rapikan jika masih berantakan, buat tiap ujungnya rapi, merata, ketat, dan bersih. Jika perlu gunakan penebah, biar licin, tak ada debu, atau kerikil. Lantas siapkan selimut, karena setelah ini, kamu akan menyalakan kipas angin berisik itu. Maka, bacalah pesan panjang ...

Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan

Aku menyusuri sebuah jalan yang amat panjang. Bukan jalan yang megah, bukan pula jalan yang membuat orang ingin berhenti dan memotret. Hanya jalan kampung di depan rumah, sempit, biasa, namun cukup layak untuk dilalui. Aspalnya tak pernah benar-benar mulus. Ada retak kecil di sana-sini, lubang yang telah dihafal rodaku sejak lama, dan belokan-belokan pendek yang selalu datang terlalu cepat. Di kanan kirinya tidak ada yang istimewa. Rumah-rumah sederhana dengan pagar rendah, taman kecil yang rumputnya jarang dipotong, sekolah, pesantren, dan warung yang selalu tutup lebih awal. Tidak ada bangunan mencolok. Tidak ada pemandangan yang membuat orang ingin memperlambat langkah. Namun justru di jalan seperti inilah aku merasa paling aman. Hening. Tanpa kebisingan yang memekakkan telinga. Dengan semua rintangan yang terasa bisa kuprediksi. Sebenarnya, sejak awal, Ibu ikut menavigasikanku ke jalan ini. Menunjukkan arah, memberi tanda, mengingatkan kapan harus berhenti dan kapan boleh melaju. D...