Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan
Aku menyusuri sebuah jalan yang amat panjang. Bukan jalan yang megah, bukan pula jalan yang membuat orang ingin berhenti dan memotret. Hanya jalan kampung di depan rumah, sempit, biasa, namun cukup layak untuk dilalui. Aspalnya tak pernah benar-benar mulus. Ada retak kecil di sana-sini, lubang yang telah dihafal rodaku sejak lama, dan belokan-belokan pendek yang selalu datang terlalu cepat. Di kanan kirinya tidak ada yang istimewa. Rumah-rumah sederhana dengan pagar rendah, taman kecil yang rumputnya jarang dipotong, sekolah, pesantren, dan warung yang selalu tutup lebih awal. Tidak ada bangunan mencolok. Tidak ada pemandangan yang membuat orang ingin memperlambat langkah. Namun justru di jalan seperti inilah aku merasa paling aman. Hening. Tanpa kebisingan yang memekakkan telinga. Dengan semua rintangan yang terasa bisa kuprediksi. Sebenarnya, sejak awal, Ibu ikut menavigasikanku ke jalan ini. Menunjukkan arah, memberi tanda, mengingatkan kapan harus berhenti dan kapan boleh melaju. D...