Postingan

Ishtar: Dewi Cinta yang Terlupakan

Pernah membayangkan seorang dewi yang dipuja sebagai dewi kesuburan sekaligus dewi perang? Seperti tanah yang menumbuhkan bersatu dengan api yang memusnahkan. Seperti sanguinis bertemu koleris. Seperti siklus kehidupan itu sendiri, yang patah tumbuh, yang hilang (semoga) berganti. Inilah, Ishtar. Seorang dewi dari motlogi Mesopotamia yang berenang menembus arus Sungai Eufrat dan Tigris, melingkupi seluruh Mesopotamia dengan pesona yang menggoda dan dalam waktu yang sama, mematikan. Peran Perawan, Ibu, Pelacur Saya jadi teringat pada gagasan Ester Lianawati dalam bukunya " Ada Serigala Dalam Diri Setiap Perempuan ". Menurutnya, dunia yang telanjur dibangun di atas sistem patriarki membebani perempuan dengan tiga peran sekaligus: perawan, ibu, dan pelacur. Perempuan dituntut untuk: tetap “murni”, tetapi juga menarik, menjadi ibu yang sepenuhnya mengabdi, sekaligus melayani kebutuhan laki-laki. Tiga peran ini bukan hanya berat, tapi juga saling bertabrakan. Ironi. Lalu saya berp...

Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan

Setiap tahun, tanggal 21 April datang dengan pola yang hampir selalu sama. Kebaya dikeluarkan, sanggul dipasang, kamera dinyalakan. Lomba digelar. Menghias tumpeng, fashion show, hingga pemilihan “Kartini masa kini” yang tak jauh dari kata anggun, cantik, dan lemah lembut. Rapi. Meriah. Nyaris tanpa cela. Tapi ada yang terasa janggal. Pernahkah kita mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? Apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh kartini? Kartini menulis tentang kegelisahan. Tentang ketidakadilan. Tentang bagaimana perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Ia tidak sedang memperjuangkan kebaya. Ia sedang memperjuangkan cara berpikir. Dalam salah satu suratnya, Ia bahkan menegaskan, "pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan". Artinya, menjadi manusia utuh tidak cukup hanya menjadi baik. Harus ada keberanian untuk berpikir dan bersikap. Namun hari ini, kita justru sibuk merayakan tampilan. Perempuan dipuji karena anggun ...

Ritual Kecil untuk Bertahan

Besok, setelah kamu sarapan nasi dan segelas kopi, aku ingin kamu mandi dengan tenang. Tak perlu terburu. Nikmati tetesan air dengan perlahan. seolah kamu duduk di teras saat hujan turun perlahan, mendengar tiap tetesnya tanpa tergesa. Seperti menemukan jeda di antara pikiran yang biasanya berisik.  Jika sudah mandi, coba kamu pilih baju paling nyaman. Yang sudah dicuci, yang wanginya membuatmu merasa pulang, meski kamu tak benar-benar pergi ke mana-mana. Lalu pilih parfum yang aduhai, tidak terlalu menyengat, seperti wangi sabun yang tertinggal pelan di kulit selepas mandi. Kamu juga bisa gunakan minyak kayu putih atau telon jika mau. Segala yang membuatmu lebih rileks dan tidak tegang. Lalu pergilah ke dekat kasur. Rapikan jika masih berantakan, buat tiap ujungnya rapi, merata, ketat, dan bersih. Jika perlu gunakan penebah, biar licin, tak ada debu, atau kerikil. Lantas siapkan selimut, karena setelah ini, kamu akan menyalakan kipas angin berisik itu. Maka, bacalah pesan panjang ...

Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan

Aku menyusuri sebuah jalan yang amat panjang. Bukan jalan yang megah, bukan pula jalan yang membuat orang ingin berhenti dan memotret. Hanya jalan kampung di depan rumah, sempit, biasa, namun cukup layak untuk dilalui. Aspalnya tak pernah benar-benar mulus. Ada retak kecil di sana-sini, lubang yang telah dihafal rodaku sejak lama, dan belokan-belokan pendek yang selalu datang terlalu cepat. Di kanan kirinya tidak ada yang istimewa. Rumah-rumah sederhana dengan pagar rendah, taman kecil yang rumputnya jarang dipotong, sekolah, pesantren, dan warung yang selalu tutup lebih awal. Tidak ada bangunan mencolok. Tidak ada pemandangan yang membuat orang ingin memperlambat langkah. Namun justru di jalan seperti inilah aku merasa paling aman. Hening. Tanpa kebisingan yang memekakkan telinga. Dengan semua rintangan yang terasa bisa kuprediksi. Sebenarnya, sejak awal, Ibu ikut menavigasikanku ke jalan ini. Menunjukkan arah, memberi tanda, mengingatkan kapan harus berhenti dan kapan boleh melaju. D...