Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan
Setiap tahun, tanggal 21 April datang dengan pola yang hampir selalu sama. Kebaya dikeluarkan, sanggul dipasang, kamera dinyalakan. Sekolah dan instansi ramai dengan lomba menghias tumpeng, fashion show, hingga pemilihan “Kartini masa kini” yang tak jauh dari kata anggun, cantik, dan lemah lembut. Rapi. Meriah. Tapi ada yang terasa janggal. Bukan karena perayaannya salah, tapi karena maknanya seperti bergeser pelan-pelan, tanpa kita sadari. Kartini menulis tentang kegelisahan. Tentang ketidakadilan. Tentang bagaimana perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Ia tidak sedang memperjuangkan kebaya. Ia sedang memperjuangkan cara berpikir. Ia pernah menulis bahwa untuk menjadi beradab, pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan. Artinya, menjadi manusia utuh tidak cukup hanya terlihat baik, tapi juga harus berpikir jernih dan memiliki keberanian moral. Namun hari ini, kita justru sibuk merayakan “tampilan”. Perempuan dipuji karena anggun berjalan ...