Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan
Aku menyusuri sebuah jalan yang amat panjang.

Bukan jalan yang megah, bukan pula jalan yang membuat orang ingin berhenti dan memotret. Hanya jalan kampung di depan rumah, sempit, biasa, namun cukup layak untuk dilalui.
Aspalnya tak pernah benar-benar mulus. Ada retak kecil di sana-sini, lubang yang telah dihafal rodaku sejak lama,
dan belokan-belokan pendek yang selalu datang terlalu cepat. Di kanan kirinya tidak ada yang istimewa.
Rumah-rumah sederhana dengan pagar rendah,
taman kecil yang rumputnya jarang dipotong,
sekolah, pesantren, dan warung yang selalu tutup lebih awal.
Tidak ada bangunan mencolok. Tidak ada pemandangan yang membuat orang ingin memperlambat langkah. Namun justru di jalan seperti inilah aku merasa paling aman. Hening. Tanpa kebisingan yang memekakkan telinga. Dengan semua rintangan yang terasa bisa kuprediksi.
Sebenarnya, sejak awal, Ibu ikut menavigasikanku ke jalan ini. Menunjukkan arah, memberi tanda, mengingatkan kapan harus berhenti dan kapan boleh melaju. Dan aku tidak pernah benar-benar keberatan.
Aku menyukainya. Atau mungkin, aku hanya belajar menyukainya.
Di jalan ini, aku jarang terkejut. Jarang takut. Jarang merasa tertinggal. Hingga suatu hari, aku sampai di ujung jalan itu.
Sebuah persimpangan besar terbentang di hadapanku.
Untuk pertama kalinya, pandanganku tidak lagi terhalang oleh rumah dan pagar. Jalan itu terbuka lebar, memanjang jauh ke depan, dengan marka yang rapi dan lampu-lampu yang menyala teratur. Ada kendaraan yang melaju tenang di sana. Layaknya kendaraanku.
Tidak tergesa, tidak saling menyerobot. Seolah tahu persis ke mana dia akan pergi. Aku berdiri agak lama di tepi persimpangan itu. Menimbang. Mengira-ngira. Lalu aku berbelok.
Jalan itu menyambutku dengan lapang, dengan hangat. Udara terasa lebih luas. Cahaya terasa lebih terang.
Aku sempat berpikir, mungkin aku akan menyusuri jalan ini seterusnya. Mungkin inilah jalur yang selama ini kucari, jalur yang tidak hanya aman, tetapi juga terasa hidup.
Kupikir, Ibu pun akan setuju. Di sepanjang jalan itu, ada banyak tempat yang selalu ingin kudatangi. Toko buku dengan rak tinggi dan bau kertas lama. Coffee shop kecil beraroma kopi giling dengan jendela besar menghadap jalan. Bioskop, museum, ruang-ruang sunyi tempat orang berpikir dan pulang dengan kepala lebih ringan.
Beberapa kali aku benar-benar mampir. Dan itu menyenangkan. Meskipun terkadang aku terlalu naif untuk mengakuinya. Terlalu menyenangkan, bahkan. Aku mulai mencoba hidup yang berbeda. Rute yang berbeda. Hari-hari yang tidak lagi seragam.
Hingga suatu ketika, aku tiba di sebuah pemberhentian kecil. Kupikir aku hanya berhenti sejenak seperti sebelumnya. Untuk beristirahat. Untuk meneguk air. Atau sekadar memandangi peta.
Namun ada seorang penjaga di sana. Seragamnya rapi, wajahnya datar, suaranya tidak tinggi dan tidak rendah. Ia berkata bahwa kendaraanku tidak boleh lewat. Berhenti di sini, atau putar balik. Aku terdiam sejenak. Lalu mengatakan padanya bahwa aku akan putar balik. Kembali ke jalanku semula, atau mencari jalur lain. Sebenarnya, ada satu pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.
Mengapa?
Mengapa kendaraanku tidak bisa lewat?
Namun pertanyaan itu tidak pernah keluar dari mulutku. Aku takut, bukan pada jawabannya, melainkan pada kemungkinan bahwa jawabannya akan menghancurkan satu-satunya hal yang selama ini kujaga. Keyakinanku tentang spesifikasi kendaraanku sendiri. Aku selalu percaya kendaraanku baik-baik saja. Mungkin bukan yang terbaik. Bukan yang paling cepat. Bukan yang paling mengilap.
Namun cukup. Aku merawat mesin usangnya dengan sabar. Mengganti bagian yang aus, membersihkan yang berkarat, mengisinya dengan bensin pertamax, menambahkan sedikit hiasan kecil agar ia tampak lebih pantas.
Begitu banyak waktu, tenaga, dan harapan yang kutaruh di sana. Mana mungkin ia tidak bisa lewat hanya karena sedikit usang, sedikit monoton, sedikit membosankan. Lebih baik aku tidak tahu alasannya. Lebih aman bagiku untuk percaya bahwa masalahnya bukan pada kendaraanku, melainkan pada keadaan.
Maka aku putar balik.
Kupikir, akan selalu ada jalan alternatif lain. Aku kembali ke belokan sebelumnya. Menyusuri jalan yang sama.
hari ke hari,
minggu ke minggu,
bulan ke bulan,
hingga tanpa sadar, tahun pun berganti.
Beberapa kali aku menemukan persimpangan lain. Jalannya tidak buruk. Tidak menyeramkan. Hanya saja, tidak pernah benar-benar membuatku berhenti lama. Setiap kali aku hampir berbelok, ingatanku selalu kembali pada satu pemberhentian itu. Pada satu penjaga. Pada satu penolakan yang tak pernah kupahami.
Dan setiap kali itu pula, aku menarik diri. Aku khawatir, setelah kendaraanku melaju cukup jauh, Kendaraanku akan kembali dihentikan.
Kembali disuruh putar balik.
Kembali pulang dengan perasaan yang sama.
Maka aku memilih bertahan.
Menyusuri jalan yang sama. Jalan yang tidak pernah mempertanyakanku. Jalan yang membiarkanku terus melaju tanpa ujian. Aku mencoba menikmatinya seperti dulu.
Dengan tenang.
Dengan patuh.
Meski kini, diam-diam, aku mulai lelah melihat hal yang sama, mendengar suara yang sama, dan tiba di tempat yang sama.
berulang,
dan berulang.
Namun, aku selalu berkata pada diriku sendiri. Mungkin beginilah rute perjalananku. Dan tugasku bukan mencari jalan yang lain, melainkan belajar berdamai dengan jalan yang ini.
Dan mungkin, suatu hari nanti, aku akan kembali berdiri di sebuah persimpangan dengan perasaan yang berbeda.
Tidak lagi hanya menimbang dan mundur, melainkan berani melangkah, meski dengan langkah yang masih ragu.
Dan jika kelak aku kembali dihentikan, aku berharap aku tidak lagi memilih diam, melainkan bertanya dengan suara yang jujur. mengapa aku belum boleh lewat, dan apa yang perlu kuperbaiki agar suatu hari aku bisa melaju lebih jauh.
Karena mungkin, keberanian itu bukan selalu tentang memilih jalan yang lain, melainkan tentang berani mengenali kekurangan diri, merawat kendaraanku dengan lebih sabar, dan percaya bahwa suatu hari, aku memang pantas untuk berbelok. Berbelok ke jalan yang baik.
Komentar
Posting Komentar