A Letter of Thanks
Ada hal yang baru benar-benar kupahami setelah ditinggalkan seseorang. Ternyata, yang paling melelahkan bukan kehilangan orangnya, melainkan kehilangan penjelasan yang seharusnya menyertai kepergian itu. Orang-orang sering berkata bahwa hidup memang tidak selalu memberi jawaban. Bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan alasan. Bahwa kadang seseorang pergi begitu saja karena memang sudah waktunya selesai. Aku mencoba mempercayai itu dalam waktu yang lama. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mencoba menjadi dewasa dengan menerima bahwa manusia bisa berubah, bisa lelah, bisa memilih menjauh tanpa banyak kata. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa yang menghancurkan bukan kepergiannya. Yang menghancurkan adalah kehampaan setelahnya. Ruang kosong yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah diberi tempat untuk pulang. Aku pernah bertanya-tanya, apakah aku kurang cukup? Apakah ada hal yang gagal kulakukan? Apakah semua yang pernah diucapkan hanya sementara? Atau memang...