Aku Melamun, Maka Aku Ada
melamun. Sekilas terdengar sepele, tapi aku menyimpan alasan kenapa aku terus melakukannya. Tidak ada anak yang diajari orang tuanya melamun. Anak-anak diajari mengeja, menulis nama mereka, menggambar gunung sawah matahari, mengetahui nama-nama benda yang dia lihat setiap hari, memanggil nama ayah ibunya. Tapi tidak pernah ada yang diajari melamun. Kukira kita diinternalisasi bahwa melamun berarti kekosongan, berkait erat dengan menganggur. Bahwa melamun sebaiknya diinterupsi karena dianggap ketidakstabilan pikiran. Padahal melamun sepuluh kali lebih asyik ketimbang scrolling TikTok dan sepuluh kali lebih tidak membutuhkan tenaga ketimbang menulis tulisan ini. Kegiatan melamun tidak bisa kita sebut sebagai kelebihan diri saat wawancara, tapi melamun juga tidak pantas disejajarkan dengan aneka sifat kekurangan seperti pelupa, ceroboh, prokrastinasi, atau tidak mawas diri. Melamun punya tempatnya sendiri, sunyi, tapi berarti. Aku tak tahu sejak kapan ia jadi begi...