Aku Melamun, Maka Aku Ada

melamun. Sekilas terdengar sepele, tapi aku menyimpan alasan kenapa aku terus melakukannya. 

Tidak ada anak yang diajari orang tuanya melamun. Anak-anak diajari mengeja, menulis nama mereka, menggambar gunung sawah matahari, mengetahui nama-nama benda yang dia lihat setiap hari, memanggil nama ayah ibunya. Tapi tidak pernah ada yang diajari melamun.

Kukira kita diinternalisasi bahwa melamun berarti kekosongan, berkait erat dengan menganggur. Bahwa melamun sebaiknya diinterupsi karena dianggap ketidakstabilan pikiran.

Padahal melamun sepuluh kali lebih asyik ketimbang scrolling TikTok dan sepuluh kali lebih tidak membutuhkan tenaga ketimbang menulis tulisan ini.

Kegiatan melamun tidak bisa kita sebut sebagai kelebihan diri saat wawancara, tapi melamun juga tidak pantas disejajarkan dengan aneka sifat kekurangan seperti pelupa, ceroboh, prokrastinasi, atau tidak mawas diri. Melamun punya tempatnya sendiri, sunyi, tapi berarti.

Aku tak tahu sejak kapan ia jadi begitu dekat. Mungkin karena di tengah kebisingan dunia, melamun adalah satu-satunya ruang yang tak menuntut penjelasan apa-apa. Ia tak menegur, tak menilai. Ia hanya duduk bersamaku, memberi jeda dari kenyataan, dan membiarkanku mengembara. Di sana, aku bisa menjadi siapa saja, apa saja, dan diam-diam menyusun ulang diriku sendiri. Melamun bukan sekadar kebiasaan, ia seperti bahasa rahasia antara aku dan hatiku sendiri.

Tapi melamun tidak selalu diterima.

Melamun selalu dilihat orang dewasa sebagai kekosongan yang harus diisi: les matematika, mengaji, lembar-lembar LKS yang sebenarnya terlalu membosankan untuk diisi. Bangun, belajar sampai dapat juara, tidur. Bermain hanya tanda jeda. Sementara melamun tidak pernah diizinkan.

Orangtua selalu punya cita-cita anaknya kelak jadi sesuatu. Dalam kasusku, Beliau pasrahkan semua asa kepada sang anak yang masih terlalu oportunis dan idealis. Dulu, dia punya angan-angan utopis. Namun, entah sebuah kenaasan atau keberuntungan, Tuhan menuliskan cerita lain. Hingga aku mengenyam Pendidikan tinggi Sastra Inggris, jurusan yang bahkan tak pernah ada dalam rencanaku.

Di sanalah aku mengenal sastrawan dan penyair.

Dan sastrawan... akrab dengan lamunan.

Tidak ada tulisan di blog ini yang kutulis tanpa lamunan. Mereka lahir dari lamunan panjang soal hidup, cinta, cita-cita, atau apa saja yang kurang berarti. Mereka muncul dari malam-malam cemas, perjalanan sunyi, atau momen absurd di kemacetan kota.

Kadang ia muncul saat tak ada yang kupikirkan, kadang muncul saat justru terlalu banyak yang mengganggu pikiran.

Melamun, bagiku, adalah semacam kesunyian yang menjadikanku, aku. Di dalamnya aku belajar membayangkan dunia dari mata yang bukan milikku. Aku memupuk empati melalui buku-buku yang kubaca, kemudian kulamunkan. dengan begitu, aku terbiasa menempatkan diriku di sudut pandang yang berbeda. menjadi anak kecil yang kehilangan, orang asing yang tersesat, bahkan daun yang jatuh tanpa tahu musim. Dari sana, empati tumbuh, diam-diam tapi nyata. Ia membuatku lebih lembut, lebih mendengar.

Melamun tidak membawaku ke mana-mana. 

Namun, sebenarnya, jika dipikirkan kembali, melamun tidak melulu harus menjadi katalisator. Melamun tidak selalu menghadirkan inspirasi. Melamun juga tidak sekonyong-konyong membuat aku lancar merangkai kata.

Melamun hanya permulaan. Sisanya butuh kesadaran.

Maka, aku kira jika kita tidak mendapatkan apa-apa dari melamun, tidak perlu dipusingkan. Justru melamun adalah pelarian dari kepusingan.

Untuk orang dengan intensitas kecemasan seperti aku, melamun berarti meringankan tekanan. Ia tidak mesti punya tujuan, sebab melamun tidak butuh kerja keras otak.

Ceritaku di atas hanyalah bagian dari kategori melamun yang menjadi sesuatu. Melamun yang tidak menjadi sesuatu tentu saja tidak bisa aku ceritakan, sebab dia tidak jadi sesuatu. Dan melamun kategori ini lebih sering terjadi. Sangat sering. Sungguh.

Sia-siakah melamun yang tidak membawa kita ke mana-mana? Seperti puluhan tulisan yang bernasib nangkring di draft, jawabannya, tentu tidak.

Aku memang belum menjadi seperti yang orangtuaku inginkan. Tapi aku kira aku sedang menuju apa yang Pramoedya sebut sebagai keabadian lewat kerja kepenulisan.

"orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." -Pramoedya Ananta Toer


Semua itu bisa aku upayakan, dengan syarat, melamun dulu.




Komentar

  1. Wooowww.... Narasi yang ringan namun segar. Diksi yang sederhana dan melenakan. Good job miss faiz...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Adalah si Ikan Dory

Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan