A Letter of Thanks
Ada hal yang baru benar-benar kupahami setelah ditinggalkan seseorang. Ternyata, yang paling melelahkan bukan kehilangan orangnya, melainkan kehilangan penjelasan yang seharusnya menyertai kepergian itu.
Orang-orang sering berkata bahwa hidup memang tidak selalu memberi jawaban. Bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan alasan. Bahwa kadang seseorang pergi begitu saja karena memang sudah waktunya selesai. Aku mencoba mempercayai itu dalam waktu yang lama. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mencoba menjadi dewasa dengan menerima bahwa manusia bisa berubah, bisa lelah, bisa memilih menjauh tanpa banyak kata.
Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa yang menghancurkan bukan kepergiannya. Yang menghancurkan adalah kehampaan setelahnya. Ruang kosong yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah diberi tempat untuk pulang.
Aku pernah bertanya-tanya, apakah aku kurang cukup? Apakah ada hal yang gagal kulakukan? Apakah semua yang pernah diucapkan hanya sementara? Atau memang sejak awal aku hanyalah tempat singgah bagi seseorang yang sudah berniat pergi jauh sebelum aku menyadarinya?
Mungkin itu sebabnya aku begitu membenci hubungan yang berakhir tanpa kejujuran. Karena cinta, setidaknya bagiku, bukan hanya tentang bagaimana memulai. Tapi juga tentang bagaimana seseorang memilih mengakhiri.
Pada akhirnya manusia hanya ingin dipilih dengan sungguh-sungguh. Ingin diyakinkan bahwa keberadaannya berarti. Karena itu ketika seseorang pergi tanpa penjelasan, yang tertinggal bukan cuma sedih. Ada rasa seolah seluruh nilai diri ikut dipertanyakan.
Tidak semua luka lahir dari niat jahat.
Tidak semua orang yang melukai datang dengan kebencian. Beberapa datang dengan niat baik, dengan perhatian, dengan janji untuk tinggal lebih lama. Lalu pergi ketika semuanya mulai terasa berat atau menemukan opsi lain yang menurutnya lebih layak. Dan ironisnya, mereka sering pergi sambil berkata, “Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
Aku percaya itu. Sungguh.
Karena aku tahu lelah itu nyata. Aku tahu manusia bisa kewalahan oleh hidupnya sendiri. Bisa kehilangan arah. Bisa tidak tahu bagaimana menjelaskan isi kepalanya. Tapi memahami alasan seseorang bukan berarti rasa sakitnya otomatis hilang.
Kita membangun kedekatan lewat kata-kata, lalu dihancurkan oleh tidak adanya kata-kata. Bukan karena semuanya palsu, tapi karena ada penjelasan yang tidak pernah diselesaikan. Ada percakapan yang dibiarkan menggantung sampai akhirnya berubah menjadi luka.
Dan mungkin yang paling sepi dari semua ini adalah posisi “menunggu”.
Lucunya, semakin lama menunggu, semakin aku sadar bahwa sebenarnya aku tidak sedang menunggu dia kembali. Aku hanya menunggu kepastian bahwa aku tidak ditinggalkan karena aku tidak layak dicintai. Karena diam memiliki cara yang kejam untuk membuat seseorang menyalahkan dirinya sendiri.
Dulu aku mengira kecocokan adalah alasan seseorang bertahan. Ternyata tidak selalu. Kadang dua orang bisa saling memahami, saling tertawa di frekuensi yang sama, saling mengenal bagian terdalam satu sama lain dan tetap gagal bertahan. Bukan karena tidak ada rasa, tapi karena salah satunya tidak siap bertanggung jawab atas rasa itu.
Dan di titik tertentu, aku mulai lelah mencari penjelasan dari seseorang yang memilih diam.
Aku mulai belajar bahwa closure tidak selalu datang dari orang yang pergi. Kadang closure harus dipaksa lahir dari penerimaan yang sangat sunyi, bahwa tidak semua orang akan cukup berani menjelaskan kenapa mereka berubah.
Aku tidak lagi marah sebesar dulu. Yang tersisa sekarang hanya sedih yang lebih tenang. Sedih yang tidak lagi berteriak, tapi duduk diam di sudut kepala setiap malam.
Aku mulai menerima bahwa beberapa hubungan memang tidak selesai dengan titik. Ada yang berhenti begitu saja di tengah kalimat. Tidak benar-benar tamat, tapi juga tidak punya kelanjutan. Mungkin itu yang terjadi ketika seseorang terlalu lama memendam pertanyaan tanpa jawaban. Perasaannya perlahan tidak hilang, hanya berubah bentuk menjadi kelelahan.
Sekarang, jika ada yang bertanya apa kita setelah semua ini, mungkin jawabanku tetap sama.
Kita adalah cerita yang berhenti di tengah halaman.
Komentar
Posting Komentar