Ritual Kecil untuk Bertahan
Besok, setelah kamu sarapan nasi dan segelas kopi, aku ingin kamu mandi dengan tenang. Tak perlu terburu. Nikmati tetesan air dengan perlahan. seolah kamu duduk di teras saat hujan turun perlahan, mendengar tiap tetesnya tanpa tergesa. Seperti menemukan jeda di antara pikiran yang biasanya berisik.
Jika sudah mandi, coba kamu pilih baju paling nyaman. Yang sudah dicuci, yang wanginya membuatmu merasa pulang, meski kamu tak benar-benar pergi ke mana-mana. Lalu pilih parfum yang aduhai, tidak terlalu menyengat, seperti wangi sabun yang tertinggal pelan di kulit selepas mandi. Kamu juga bisa gunakan minyak kayu putih atau telon jika mau. Segala yang membuatmu lebih rileks dan tidak tegang.
Lalu pergilah ke dekat kasur. Rapikan jika masih berantakan, buat tiap ujungnya rapi, merata, ketat, dan bersih. Jika perlu gunakan penebah, biar licin, tak ada debu, atau kerikil. Lantas siapkan selimut, karena setelah ini, kamu akan menyalakan kipas angin berisik itu.
Maka, bacalah pesan panjang ini secara perlahan, tak perlu bergegas. Ingat, kamu hanya butuh jeda, dan jika perlu waktu untuk berhenti. Kamu adalah semesta kecil, yang terdiri dari beragam perasaan, pengalaman, ingatan yang kamu kumpulkan secara perlahan. Ia juga berisi kecemasan yang kamu tanam diam-diam.
Jika kamu cemas, banyak pikiran, dan merasa sendiri, kamu perlu mengeluarkan apa yang ada dalam hatimu agar ruang di dalamnya lebih lega. Kamu tak harus menyimpannya sendirian, ada miliaran manusia di kolong langit. Kamu bisa meminta satu di antara mereka, yang kamu yakini bijak dan baik budi, untuk dimintai bantuan. Setidaknya, akan membuatmu lebih tenang.
Kesedihanmu tak harus besar dan tak perlu masuk akal bagi orang lain. Ia hanya perlu penting untuk dirimu sendiri. Jika kamu merasa sedih, berduka, marah, kesal, atau malu, sampaikan saja. Kamu tak harus menyusunnya dengan rapi. Karena semua itu milikmu.
Sudah terlalu banyak orang di dunia ini yang berpikir dirinya tak cukup penting bagi yang lain. Tapi kamu penting. Setidaknya bagi dirimu sendiri.
Jangan biarkan hatimu menjadi ruang hampa untuk marah, benci, atau rasa bersalah. Ia memang tidak mudah rusak, tapi bisa kosong jika tak dijaga. Dari kekosongan itulah tumbuh kecemasan dan luka yang akhirnya kau lemparkan ke orang lain.
Aku tahu hidup brengsek. Hidup akan selalu brengsek. Kita hanya lupa sesaat, bingung, atau dibuat abai karena sibuk dengan pekerjaan. Tapi hidup selalu begitu, menikam ketika lengah, menginjak ketika kalah, dan acap kali membuat marah. Dan kabar baiknya, sejauh ini, kita masih belum benar-benar kalah. Semakin sering hidup menjegal kita, kita perlahan belajar cara bangkit yang lebih lincah.
Maka, saat kamu membaca ini, kuharap luka, duka, atau marahmu sudah selesai. Hari baru tiba, amarah baru muncul. Kita tak perlu marah lagi pada diri sendiri, karena kini negara telah mengambil peran sebagai sumber amarah paling sempurna.
Komentar
Posting Komentar