Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan
Setiap tahun, tanggal 21 April datang dengan pola yang hampir selalu sama. Kebaya dikeluarkan, sanggul dipasang, kamera dinyalakan. Lomba digelar. Menghias tumpeng, fashion show, hingga pemilihan “Kartini masa kini” yang tak jauh dari kata anggun, cantik, dan lemah lembut.
Rapi. Meriah. Nyaris tanpa cela. Tapi ada yang terasa janggal.
Pernahkah kita mempertanyakan apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? Apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh kartini?
Kartini menulis tentang kegelisahan. Tentang ketidakadilan. Tentang bagaimana perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Ia tidak sedang memperjuangkan kebaya. Ia sedang memperjuangkan cara berpikir.
Dalam salah satu suratnya, Ia bahkan menegaskan, "pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan". Artinya, menjadi manusia utuh tidak cukup hanya menjadi baik. Harus ada keberanian untuk berpikir dan bersikap.
Namun hari ini, kita justru sibuk merayakan tampilan.
Perempuan dipuji karena anggun berjalan di atas panggung. Diberi nilai karena rapi berbusana, pandai bersolek. Ditepuk tangani karena tampil sesuai ekspektasi. Dinilai dari hal-hal yang non-subtantif. Bukan karena keberaniannya dalam berpikir, bersuara, atau mempertanyakan hal yang tidak adil.
Dari sini, masalahnya sebenarnya mulai terlihat.
Kartini dulu membuka jalan agar perempuan bisa belajar. Sesuatu yang pada masanya nyaris mustahil. Hari ini, jalan itu sudah terbuka lebar. Perempuan bisa sekolah tinggi, meraih gelar, bahkan melampaui batas yang dulu hanya dimiliki laki-laki.
Namun setelah sampai di titik itu, anehnya, standar penilaian terhadap wanita tidak ikut berkembang.
Perempuan tetap ditanya, “bisa masak? bisa beberes? mencuci?"
Seolah-olah pencapaiannya masih dilihat dari kemampuan melakukan pekerjaan domestik. dan itu adalah kewajiban.
Di sisi lain, laki-laki hampir tidak pernah ditanya hal serupa. Padahal makan dan hidup bersih adalah kebutuhan dasar semua manusia, bukan keterampilan eksklusif satu gender saja.
Belum selesai di situ. Lucunya, perempuan juga tetap ditanya, “apakah bekerja?”
Jika tidak, dianggap beban. Jika iya, tetap diharapkan menjalankan peran domestik dengan standar yang sama.
Akhirnya, perempuan dituntut untuk berhasil di dua dunia sekaligus. Tanpa pernah benar-benar diberi ruang untuk memilih tanpa dihakimi. Seperti terkungkung oleh standar ganda.
Di titik ini, terasa jelas sudah. akses sudah dibuka, tapi ekspektasi lama tidak benar-benar dilepas.
Dan tanpa kita sadari, pola ini justru diperkuat oleh cara kita merayakan.
Kita melanggengkan objektivikasi perempuan. Kita menempatkan mereka sebagai objek yang dinilai, dilihat, dibandingkan, dan dikomentari. Standarnya pun tidak jauh-jauh dari cara lama. Seberapa cantik, seberapa menarik, seberapa anggun, seberapa enak dipandang. Yang lebih menggelitik, kerap kali itu dilakukan oleh sesama perempuan.
Bahkan dalam perayaan yang katanya mengangkat perempuan, kita justru mereduksi mereka menjadi sesuatu yang bisa diukur dari luar.
Ironisnya, semua ini dilakukan atas nama Kartini.
Padahal, Kartini yang sebenarnya jauh lebih kompleks dari sosok yang kita tampilkan.
Ia bukan hanya cerdas, tapi juga berani mengoyak kegelisahannya.
Bukan hanya anggun, tapi juga berani melawan.
Bukan hanya lembut, tapi juga tajam dalam mengkritik.
Ia mempertanyakan tradisi yang dianggap sakral. Ia menggugat sistem yang membesarkannya. Bahkan dalam perjalanan hidupnya, ia juga bergulat dengan keyakinan. Mencari, meragukan, hingga menemukan pemahaman iman yang lahir dari kesadaran, bukan sekadar warisan.
Kartini bukan sosok yang tenang dalam arti pasif. Ia adalah sosok yang terus berpikir, terus bertanya, dan tidak puas dengan jawaban yang dangkal.
Sayangnya, sisi ini jarang kita bicarakan.
Karena Kartini yang seperti itu tidak selalu nyaman untuk dirayakan.
Lebih mudah merayakan Kartini sebagai ikon daripada memahami Kartini sebagai gagasan. Lebih nyaman melihatnya sebagai sosok anggun daripada menerima bahwa ia adalah pemikir yang menggugat struktur sosial.
Maka kita memilih versi yang lebih aman. Kartini yang sudah dijinakkan. Yang bisa difoto, dipentaskan, dan dijadikan tema lomba tanpa benar-benar mengganggu cara kita memandang perempuan.
Bukan berarti semua perayaan itu salah. Tidak juga.
Tapi ketika perayaan berhenti di permukaan, kita kehilangan esensinya.
Hari Kartini seharusnya menjadi ruang refleksi. Sudahkah perempuan benar-benar sudah merdeka dalam berpikir? Apakah mereka punya ruang aman untuk bersuara? Apakah mereka mempunyai akses publik yang menjamin keamanannya?
Jika jawabannya masih “belum sepenuhnya”, mungkin yang perlu diubah bukan cara perempuan tampil, tapi cara kita memandang mereka.
Kartini tidak meminta perempuan untuk terlihat hebat. Ia ingin perempuan menjadi hebat, dalam pikirannya, dalam keberaniannya, dalam kemampuannya menentukan hidupnya sendiri.
Dan jika Kartini bisa melihat kita hari ini, mungkin ia akan bertanya dengan cara yang sama seperti dulu.
mengapa kami masih dinilai dari rupa, bukan dari suara?
Mengapa kami masih dipandang, bukan didengar?
Karena jika gelap yang ia lawan dulu adalah keterkungkungan, maka gelap hari ini mungkin lebih halus. Ia hadir dalam bentuk perayaan yang tampak terang, tapi diam-diam tetap membatasi.
Dan di titik itu, kita perlu bertanya.
apakah ini benar habis gelap, terbitlah terang?
Atau jangan-jangan, kita masih berdiri di ambang fajar, merasa sudah terang, padahal matahari belum benar-benar terbit?
Komentar
Posting Komentar