Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan
Setiap tahun, tanggal 21 April datang dengan pola yang hampir selalu sama. Kebaya dikeluarkan, sanggul dipasang, kamera dinyalakan. Sekolah dan instansi ramai dengan lomba menghias tumpeng, fashion show, hingga pemilihan “Kartini masa kini” yang tak jauh dari kata anggun, cantik, dan lemah lembut.
Rapi. Meriah. Tapi ada yang terasa janggal.
Bukan karena perayaannya salah, tapi karena maknanya seperti bergeser pelan-pelan, tanpa kita sadari.
Kartini menulis tentang kegelisahan. Tentang ketidakadilan. Tentang bagaimana perempuan dipinggirkan dari akses pendidikan dan kebebasan berpikir. Ia tidak sedang memperjuangkan kebaya. Ia sedang memperjuangkan cara berpikir.
Ia pernah menulis bahwa untuk menjadi beradab, pendidikan intelektual dan moral harus berjalan beriringan. Artinya, menjadi manusia utuh tidak cukup hanya terlihat baik, tapi juga harus berpikir jernih dan memiliki keberanian moral.
Namun hari ini, kita justru sibuk merayakan “tampilan”.
Perempuan dipuji karena anggun berjalan di atas panggung. Diberi nilai karena rapi berbusana. Ditepuk tangan karena mampu tampil sesuai ekspektasi, bukan karena mampu berpikir kritis, bersuara, atau mempertanyakan hal yang tidak adil.
Lebih jauh lagi, tanpa sadar kita ikut melanggengkan objektivikasi perempuan.
Perempuan ditempatkan sebagai objek yang dinilai, dilihat, dibandingkan, dan dikomentari. Kriteria penilaian sering kali berkutat pada penampilan. Seberapa menarik, seberapa sesuai standar, seberapa enak dipandang. Bahkan dalam balutan perayaan yang katanya mengangkat derajat perempuan, kita justru mereduksi mereka menjadi sesuatu yang bisa diukur dari luar. Semangatnya dipangkas, kegelisahannya dilunakkan, dan perlawanannya disederhanakan.
Ironisnya, ini dilakukan atas nama Kartini.
Padahal, ada sisi Kartini yang jarang benar-benar kita lihat.
Kita sering mengenalnya sebagai sosok yang cerdas, anggun, dan tak jarang, cantik. Sosok yang ideal untuk dijadikan simbol. Tapi Kartini yang hidup dalam surat-suratnya jauh lebih kompleks dari itu.
Ia bukan hanya cerdas, tapi juga gelisah.
Bukan hanya anggun, tapi juga berani melawan.
Bukan hanya lembut, tapi juga tajam dalam mengkritik.
Ia mempertanyakan tradisi yang dianggap sakral. Ia berani mengkritik keimanan fanatis yang tidak berdasar. Ia berani mengungkapkan ketidaksetujuan, bahkan terhadap sistem yang membesarkannya sendiri. Ia tidak selalu tenang. justru sering kali resah, marah, dan penuh pertanyaan.
Kartini bukan sekadar simbol perubahan. Pada masanya, ia adalah suara yang tidak nyaman didengar.
Dan mungkin, justru karena itulah kita memilih menyederhanakannya.
Lebih mudah merayakan Kartini sebagai ikon daripada memahami Kartini sebagai gagasan. Lebih nyaman melihatnya sebagai sosok anggun daripada menerima bahwa ia adalah pemikir yang menggugat struktur sosial.
Ada semacam paradoks yang jarang kita sadari. Kita merayakan emansipasi, tapi dengan cara yang justru membatasi. Kita ingin mengangkat perempuan, tapi masih menggunakan standar lama untuk menilainya.
Seolah-olah perempuan yang layak dirayakan adalah mereka yang sesuai dengan definisi cantik dan sopan yang tertulis dalam kesepakatan tidak tertulis. Sebuah keyakinan komunal yang lagi-lagi masih sangat didominasi oleh bagaimana lelaki menilai perempuan.
Padahal, dalam surat-suratnya, Kartini justru mempertanyakan semua itu.
Ia bertanya mengapa perempuan harus dikungkung. Mengapa sayap mereka dipotong. Mengapa kebebasan berpikir menjadi sesuatu yang dianggap berbahaya.
Kalimat-kalimatnya bukan kalimat yang jinak. Ada kemarahan di sana. Ada keberanian yang tidak nyaman.
Dan mungkin, di situlah letak masalahnya.
Kita lebih nyaman merayakan Kartini yang sudah “dijinakkan”. Kartini yang bisa difoto. Kartini yang bisa dijadikan tema lomba. Kartini yang tidak lagi mengganggu cara kita memandang perempuan.
Karena Kartini yang sebenarnya adalah yang mempertanyakan, yang berani menggugat, yang tidak tunduk, itu lebih sulit dirayakan. Ia menuntut perubahan, bukan sekadar seremoni.
Bukan berarti semua lomba itu salah. Tidak juga. Tapi ketika perayaan hanya berhenti di permukaan, kita kehilangan esensinya.
Hari Kartini seharusnya menjadi ruang refleksi. Apakah perempuan hari ini benar-benar sudah merdeka dalam berpikir? Apakah mereka punya ruang publik yang aman dari kekerasan? Apakah mereka diberi ruang untuk bersuara tanpa takut dihakimi? Ataukah mereka masih harus memenuhi standar tertentu agar dianggap layak dihargai?
Kalau jawabannya masih “belum sepenuhnya”, mungkin yang perlu kita ubah bukan cara berpakaian perempuan, tapi cara kita memandang mereka.
Kartini tidak meminta perempuan untuk terlihat hebat. Ia ingin perempuan menjadi hebat dalam pikirannya, dalam keberaniannya, dalam kemampuannya menentukan hidupnya sendiri.
Dan jika Kartini bisa melihat kita hari ini, mungkin ia akan bertanya dengan cara yang sama seperti dulu, mengapa kami masih dinilai dari rupa, bukan dari suara? Mengapa kami masih dipandang, bukan didengar?
Karena jika gelap yang ia lawan dulu adalah keterkungkungan, maka gelap hari ini mungkin lebih halus. Ia hadir dalam bentuk perayaan yang tampak terang, tapi diam-diam tetap membatasi.
Dan di titik itu, kita perlu bertanya. Apakah ini benar “habis gelap, terbitlah terang”?
Atau jangan-jangan, kita masih berdiri di ambang fajar, merasa sudah terang, padahal matahari belum benar-benar terbit?
Komentar
Posting Komentar