Ishtar: Dewi Cinta yang Terlupakan
Pernah membayangkan seorang dewi yang dipuja sebagai dewi kesuburan sekaligus dewi perang?
Seperti tanah yang menumbuhkan bersatu dengan api yang memusnahkan.
Seperti sanguinis bertemu koleris.
Seperti siklus kehidupan itu sendiri, yang patah tumbuh, yang hilang (semoga) berganti.
Inilah, Ishtar.
Seorang dewi dari motlogi Mesopotamia yang berenang menembus arus Sungai Eufrat dan Tigris, melingkupi seluruh Mesopotamia dengan pesona yang menggoda dan dalam waktu yang sama, mematikan.
Peran Perawan, Ibu, Pelacur
Saya jadi teringat pada gagasan Ester Lianawati dalam bukunya "Ada Serigala Dalam Diri Setiap Perempuan". Menurutnya, dunia yang telanjur dibangun di atas sistem patriarki membebani perempuan dengan tiga peran sekaligus: perawan, ibu, dan pelacur.
Perempuan dituntut untuk:
tetap “murni”, tetapi juga menarik,
menjadi ibu yang sepenuhnya mengabdi,
sekaligus melayani kebutuhan laki-laki.
Tiga peran ini bukan hanya berat, tapi juga saling bertabrakan.
Ironi.
Lalu saya berpikir. Apakah Ishtar adalah representasi sempurna dari tiga peran itu?
Dalam banyak sumber, ia disebut sebagai dewi kesuburan, dewi cinta, sekaligus dewi perang.
Ia pengasuh namun juga penghancur.
Ia memberi kehidupan namun juga mencabutnya tanpa ragu.
Chaotic? ya benar, itulah Ishtar.
Jika ia hidup di zaman sekarang, mungkin ia sudah lebih dulu dihakimi. Dicap. Diteriaki dengan kata-kata yang tidak pantas. Tapi jujur saja, saya justru melihatnya sebagai bentuk pembangkangan paling jujur terhadap sistem yang menuntut perempuan untuk terus tunduk dan nunduk.
Simbol Kekuasaan dan Lintas Peradaban
Ishtar kerap disandingkan dengan singa, simbol keganasan dan kekuatan. Bahkan ada ungkapan yang begitu puitis dalam teks kuno: “pertempuran adalah pesta baginya.”
Ia tidak diam dalam satu nama. Bangsa Sumeria mengenalnya sebagai "Inanna". Di wilayah Kanaan, ia dipanggil "Astarte".
Citranya bahkan dipercaya memengaruhi sosok Aphrodite, dewi cinta dari Yunani yang jauh lebih diterima. Dewi cinta yang lebih populer karena kehilangan sisi liarnya.
Menarik, ya?
Seolah sejarah sendiri mencoba menjinakkan Ishtar.
Komentar
Posting Komentar