Dua Cara Menilai Laut Bercerita (2026): Cukup untuk Mengingat, Belum Cukup untuk Menggugat

Review sebagai adaptasi novel Leila S. Chudori, dan sebagai film yang berdiri sendiri.


Aku keluar dari bioskop dengan dua perasaan yang saling berkelindan. Yang pertama rasa terima kasih, setelah bertahun-tahun, kisah Biru Laut akhirnya sampai ke layar lebar. Yang kedua rasa kurang. Bukan karena filmnya buruk, tapi karena ekspektasiku yang terlalu tinggi.


"The movie was good enough, and it’s not enough"


Menurutku, Film Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) harus dinilai dengan dua pertanyaan yang berbeda, dan jawabannya memang tidak sama. Pertama, sebagai adaptasi dari novel Leila S. Chudori (2017), apa yang dikorbankan, dan apa harganya? Kedua, sebagai film yang berdiri sendiri, apakah ia berhasil bercerita dengan alatnya sendiri? Kalau dua pertanyaan itu dicampur, kita akan tidak adil pada filmnya, atau tidak jujur pada bukunya.


Catatan: tulisan ini membahas struktur dan pilihan adaptasi, bukan membongkar adegan demi adegan. Tapi tulisan ini juga mengandung spoiler. I mean who hasn’t read the book these days?


Pertama. Sebagai adaptasi: banyak yang harus dikorbankan

Kita mulai dari matematika yang cukup sederhana deh. Novelnya sekitar 390 halaman (edisi berbeda mencatat 379 sampai 394). Filmnya 135 menit. Itu sekitar 21 detik per halaman (ada 39 detik yang hilang). Kalau satu halaman saja butuh satu menit (idealnya), filmnya harus berdurasi sekitar enam setengah jam. Jadi ketika aku bilang kecewa, aku tidak sedang menuntut hal yang masuk akal: mustahil seluruh isi buku tertampung.


Sebuah adaptasi dari buku ke film memang selalu dipaksa mengecil, terlebih buku ini. Versi film pendeknya, yang digarap pada 2017, hanya sekitar 30 menit. Para pembuat film panjangnya pun tidak berpura-pura. Leila, yang kali ini menjadi penulis skenario sekaligus produser, bercerita bahwa kalimat pertama Anggi saat mulai menulis adalah ajakan untuk ikhlas melepas adegan-adegan yang mereka sayangi, dan Anggi sendiri bilang novel setebal itu memang tidak mungkin masuk utuh.


Jadi menurutku “banyak yang dipotong” bukan kejutan, melainkan harga dari alih wahana. Pertanyaan yang kutanyakan jadinya adalah: apa yang dipilih untuk dipertahankan, dan siapa yang membayar harganya?


Tangga yang dipangkas

Yang membuatku cukup sedih bukan sekadar jumlah adegan yang hilang, tapi cara novel ini dibangun. Bagian pertamanya disusun seperti tangga menuju 1998: Mulai dari Seyegan (1991), Ciputat (1991), Blangguan (1993), Terminal Bungurasih (1993), juga diselingi bab-bab 1998 dengan judul yang makin gelap: “Di Sebuah Tempat, di Dalam Gelap”, lalu “di Dalam Keji”, lalu “di Dalam Laknat”. Setiap anak tangga naik menuju puncak.


Dan episode Bungurasih adalah anak tangga yang paling terasa hilangnya. Di buku, sepulang dari aksi tanam jagung di Blangguan, Laut, Bram, dan Alex dicegat di terminal, diinterogasi dan disiksa sekitar dua hari satu malam, lalu dilepas di terminal yang sama. Itu pertama kalinya Laut merasakan kekerasan negara secara langsung, sekaligus tanda bahwa mereka sudah diincar jauh sebelum 1998. Di film, Bungurasih termasuk yang dikorbankan, dan tanpa anak tangga itu jatuhnya Laut ke 1998 terasa lebih pendek. Kita tahu apa yang terjadi, tapi kurang merasakan berapa lama ia sudah dikejar.


Aku menyoroti Bungurasih dan Blangguan yang tidak tergarap memadai, alur awal yang terburu-buru, dan perpindahan tahun yang melompat, bagian awal terasa kesusu, momen-momen ikonis dari novel tidak semuanya hadir, dan porsi Ratih Anjani menipis sehingga penyangkalan yang mestinya menyayat justru kehilangan simpati. Film memusatkan cerita pada penantian Asmara Jati, dan pilihan itu menjadi salah satu kekuatan terbesarnya, tetapi karakter lain, termasuk Bapak, Ibu, dan kawan-kawan Laut, jadi kekurangan ruang.


Yang paling mengganjal. Kekerasan yang diperhalus

Kalau ada satu hal yang paling mengganjal, itu bukan adegan yang hilang. Tapi tentang kekerasan yang terasa lebih halus dari yang ada di buku.


Aku tahu ini bisa terdengar seperti keluhan penonton yang haus “greget”. Bukan itu maksudku. Dalam Laut Bercerita, penyiksaan bukan bumbu, penyiksaan yang ada di buku ini ku tangkap sebagai bentuk kesaksian. Bu Leila menulis novelnya setelah riset dan wawancara dengan korban yang kembali dan keluarga korban, dan bab-bab 1998 adalah tempat novel itu menolak berpaling. Ketika di bagian penyiksaan itu disamarkan, dan dikurangi porsinya, yang hilang menurutku bukan sensasi. Yang hilang adalah bukti tentang apa sebenarnya yang dilakukan negara pada warganya.


Lembaga Sensor Film mencatat kandungan film ini sebagai “kekerasan” dan memberinya klasifikasi D17, jadi kekerasan itu tidak hilang sepenuhnya, memang, di film masih ada bagian dengan balok es. Penyiksaan yang disamarkan, bagiku, sama dengan sejarah yang juga ikut disamarkan.


Kenapa bisa halus? Bacaanku, dengan batasannya

Aku tidak tahu persis kenapa. Bisa sensor dari luar, bisa sensor diri, bisa juga pilihan artistik murni. LSF yang menerbitkan surat lulus sensor dan aku tidak punya bukti ada pemotongan paksa. Tapi aku juga tidak kaget, dan “tidak kaget” itu bagian dari persoalannya.


Konteksnya begini. Hari ini Indonesia dipimpin Prabowo Subianto, yang namanya erat dengan latar waktu dan kejadian dari film ini. Oleh karenanya, aku bisa memahami kalau sebuah film komersial memilih berhati-hati. Tapi memahami tidak sama dengan membenarkan, dan “wajar” tidak sama dengan “tanpa harga”. Harganya dibayar penonton yang belum membaca bukunya: mereka mendapat versi sejarah yang lebih bersih dari yang dialami para korban.


Kedua. Sebagai film, cukup, dan di beberapa tempat lebih dari cukup

Sekarang, lupakan bukunya sebentar. Film bekerja dengan alat yang berbeda: wajah, suara, diam, ruang makan yang sunyi. Film tidak wajib menjadi buku versi bergambar. Pertanyaannya jadi, "apa yang berhasil dilakukan film ini dengan caranya sendiri?" Jawabanku, "cukup banyak."


Yang berhasil: penantian, dunia, dan akting

Film ini memindahkan pusat gravitasi dari hidup Laut ke penantian keluarga yang ditinggalkan. Fokus pada penantian Asmara menjadi salah satu kekuatan utama dari film, dan Yunita Siregar membawakannya sebagai adik, anak, sekaligus orang yang ikut ditinggalkan. Ada juga soal adegan makan malam dengan piring kosong, lewat akting Christine Hakim, sebagai salah satu titik terkuat. Di sini film melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan buku: yaitu memaksa kita duduk bersama sunyi itu.


Dunianya juga meyakinkan. Nuansa akhir ‘90-an terasa presisi lewat desain produksi, sinematografi, dan musik, dan para pemain, dari Reza Rahadian sebagai Laut sampai lingkaran Winatra, terasa selaras dengan bayangan pembaca novel, setidaknya bayanganku. Bagiku sinematografi, arahan, dan akting semuanya bekerja baik. Tidak ada yang membuatku menggeleng, dan tidak ada yang membuatku terpana. Solid. Detail latar suasana juga dibangun dengan apik. Tungku minyak, fashion, majalah, koran dan detail kecil era 90-an benar-benar diwujudkan dalam bentuk visual yang nyata. 

Satu detail yang lumayan iconic di akhir, musik latar. Musik yang lumayan disturbing karena sangat kontras dengan adegannya. Scene laut dan kawan-kawannya tertangkap, ditahan, disiksa, diintrogasi, gelap, namun anehnya musik yang mengiringinya adalah musik DJ Remix aneh. Aku bertanya-tanya. Namun, setelah kuingat, memang di buku, Laut menyentil kalau sipir penjaranya punya selera musik yang jelek. Naasnya, selain seleranya jelek, musiknya diputar berulang-ulang sampai mampu memberikan penyiksaan psikologis. Oh, ternyata musik ini yang dimaksud. Jelek memang. Haha.


Selain itu, supaya adil, kelemahannya juga nyata: tempo awal terburu-buru, dan perpindahan dari fase pelarian ke fase duka terasa agak mendadak. Tapi itu kelemahan film yang berusaha menampung terlalu banyak, bukan film yang kehilangan arah.


Satu catatan soal Kinan

Ada satu hal yang tidak bisa kututup mata (dan mungkin kebanyakan dari pembaca juga): pemilihan pemeran Kinan. Dian Sastrowardoyo, yang di film pendek 2017 memerankan Anjani, kini memerankan Kasih Kinanti. Sebagian warganet mempersoalkannya, bukan terutama karena aktingnya, melainkan karena keluarga suaminya yang berasal dari klan Sutowo yang dikaitkan dengan elite Orde Baru. Mereka merasa ironi simboliknya bertabrakan dengan tema film. Pembelanya menjawab bahwa film sesensitif ini butuh nama besar agar bisa diproduksi (dan aku cukup setuju dengan realita ini).


Di sini, aku memilih menilai performanya saja, terpisah dari semua itu, karena menghakimi seseorang lewat keluarga pasangannya adalah argumen yang cukup pelik. Tapi aku tidak akan pura-pura simbolismenya tidak ada. Film tentang ingatan kolektif dibaca bersama siapa saja yang berdiri di dalam bingkainya, dan wajar kalau itu mengganjal.


Jadi, film ini untuk apa?

Kalau kamu ingin full ride (pengalaman penuh) bersama Laut dan kawan-kawannya di masa Orde Baru, baca bukunya. Detail yang membangun plot dan karakter, juga hal-hal biasa yang membuat kita dekat dengan dunia Laut, hanya ada di sana.


Film ini sebaiknya diterima sebagai media alternatif, satu karya seni lagi untuk menjaga ingatan agar kita tidak lupa apa yang terjadi beberapa dekade lalu. Menurutku itu bukan hal kecil. Tiga belas orang masih belum kembali, dan ingatan adalah salah satu hal yang paling mudah dihaluskan.


Jadi, good enough dan not enough, dua-duanya sekaligus. Sebagai adaptasi, filmnya belum lengkap dan di bagian terpenting terlalu halus. Sebagai film, ia solid: cukup untuk menggerakkan, belum cukup untuk menggugat. Mungkin memang begitulah film ini jujur pada keadaannya, bercerita sejauh yang bisa atau berani ia ceritakan. Sisanya tugas kita untuk membaca, mengingat nama-nama mereka, dan terus bertanya. Toh bukunya masih senantiasa beredar. Dan begitupun dengan apa yang ingin dibawakan bukunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persimpangan dan Hal-Hal yang Dahulu Tidak Kuberanikan

Ritual Kecil untuk Bertahan

Sebuah Catatan Tentang Kartini yang Disederhanakan