Postingan

TIDAK APA-APA UNTUK MENJADI BUKAN SIAPA-SIAPA

 Ah, sungguh quarter-life crisis ini benar-benar tidak enak. Sungguh dulu kukira hanyalah sebuah keluh kesah manusia remaja menuju dewasa yang terlalu meladeni tuntutan sosial. dulu juga kukira diriku mampu menutup telinga rapat-rapat, menatap lurus ke depan, tanpa menggubris komentar-komentar kanan-kiri yang tidak perlu. Tapi nyatanya setelah benar-benar nyemplung ke sosial, itu tidaklah mudah.  Aku yang dulu penasaran bagaimana rasanya insomnia, kini sudah muak. Setiap malam datang, pikiran lagi dan lagi dipenuhi pertanyaan akan jadi apa aku nanti? akankah orangtuaku merasa bangga dengan apa yang kucapai? Persoalan akan berhasil atau gagal terus memecah pikiranku. Kerisauan yang sama datang dan datang lagi sampai membuat kepala pening, dan akhirnya tertidur. Sungguh ninabobo yang menyeramkan bukan?  Sampai di malam penghujung tahun, malam yang lebih tenang dari malam-malam sebelumnya karena fisik dan pikiran tidak bekerja keras kali ini, menikmati hari libur pendek. Ter...

Tell Me How to Fall in Loveđź–¤

Gambar
Saya sedang membaca novel Perfume karya Patrick Suskind saat laki-laki itu mendekat, mengucapkan bahwa selera baca saya bagus. Ucapannya terdengar tulus, kalimatnya disusun seolah ia sedang mengeluarkan madu dan marzipan dari sisi mulutnya—seolah ia sedang menyenandungkan nada-nada. Saat ia mengucapkan itu, saya menahan senyuman, menggigit pipi bagian dalam untuk mencegah diri saya nampak seperti orang tolol. Namun, akhirnya saya tetap mengucapkan terima kasih dengan nada pelan. Beberapa orang memuji karya handlettering saya, sisanya memuji cara saya berpakaian di momen-momen tertentu, tetapi sangat jarang ada orang yang memuji selera buku saya saat itu. Ia adalah orang pertama, dan barangkali itu adalah awal mulanya. Saya pikir, saya telah jatuh cinta. Dalam waktu sekejap, anak laki-laki itu sekonyong-konyongnya menjadi pusat semesta saya. Saat saya menemukan presensinya, dunia seakan mengikuti plot cerita Lady in Disguise , diiringi alunan suara Ilene Woods dengan so this is love-nya...

Mengenal "Eksistensialisme" Sembari Mendefinisikan Ulang Diri

Gambar
  Bagi saya pribadi, teori filsafat  Eksistensialisme  yang dikemukakan  Jean-Paul Sartre  telah menginspirasi banyak pandangan, iman, dan prinsip saya tentang kehidupan — utamanya tentang menjadi manusia yang menjalani hidup. Apa yang menyentak pikiran saya sebenarnya adalah sebuah analogi sederhana tentang konsep Eksistensialisme, yang bisa dibilang juga sebagai pintu masuk bagi ajaran-ajaran Sartre yang lebih kompleks lagi. Dalam teorinya itu ia membandingkan sebuah gunting dengan seorang manusia, di mana perbedaan keduanya didasari pada 2 nilai, yaitu:  Eksistensi  dan  Esensi . Eksistensi  mewakili bentuk, rupa, gagasan, spesifikasi, atau sifat-sifat alamiah yang menempel pada suatu objek. Sedangkan  Esensi  mewakili fungsi, manfaat, atau definisi yang menentukan identitas sebuah objek. Gunting, dalam proses kelahirannya, diawali oleh sebuah gagasan di kepala manusia tentang alat yang dapat memotong kertas, atau tali, atau bend...

Being "ALONE"

Gambar
  SENDIRIAN.   ‘ being alone’ menjadi satu keadaan yang sering diunderestimate . Sebab, pandangan orang-orang mungkin akan berubah ketika kamu menjawab pertanyaan “sama siapa?” dengan, " Sendirian ." Makan sendirian, pergi shopping sendirian,  nongkrong  di kafe sendirian, bukan aktivitas yang mustahil untuk dilakukan, termasuk untuk perempuan . Tapi, sepertinya beraktivitas seorang diri ini masih agak mustahil untuk diterima sepenuhnya dalam  society .  S endirian  sering dilekatkan dengan rasa pity terhadap subjeknya . Society menganngap orang yang pergi sendirian berarti tak bersosialisasi, tidak punya teman bahkan dianggap sebagai seorang yang introvert.   rasa pity ini kemudian membawa label negataif   karena dianggap sebagai penggambaran isolasi dan keterasingan pada seseorang.  Kenyataannya, tidak sepenuhnya demikian.  Keputusan untuk  being alone  merupakan keputusan pribadi yang diambil secara ...