Postingan

Hidup Begitu Biasa Saja dan Hanya Itu yang Kita Punya

Gambar
"Hidup Begitu   Indah   Biasa Saja dan Hanya Itu yang Kita Punya" Source: Mojok.co Bermula dari mendefinisikan ulang presepsiku akan kematian, mengantarkanku keluar dari angan-angan utopis tentang kehidupan. Beringan hati dalam menerima kenyataan. Serta merengkuh setiap jengkal kesederhanaan. Kematian adalah sebuah paradoks. Ia begitu jauh sekaligus begitu dekat. Ia terjadi setiap saat, namun tak seorang pun membicarakannya. Seakan-akan berkata yang terjadi biarlah terjadi. Takdir tidak ada yang mengetahui. Toh, itu juga bukan urusan kita. Takdir adalah urusan Tuhan. Kelahiran dan kematian adalah takdir. Di tengah-tengahnya ada kehidupan. Tugas kita hanyalah mengisi "jalan tengah" itu. Sisanya bukan urusan kita. Hiduplah sepenuh-penuhnya hingga dadamu sesak dan perutmu mual karena menyadari hidup ini sesungguhnya tak seperti bayang-bayang utopismu. Memercayai adanya takdir memberikan rasa lega. Kita tidak menjadi yang terbaik dalam hidup dan itu tidak apa-apa, kare...

Mekanisme Pertahanan Diri

  Selamat pagi, kamu. Sudahkah bangun dan baca do'a bangun tidur seperti yang kamu ajarkan ke murid-muridmu? Sudahkah kamu tekuri warna krem dengan ornament abstrak merah karya keponakanmu di dinding kamar? Sudahkah kamu belai ilalang yang tumbuh di kasur yang kamu tiduri? Sudahkah kamu pindai wajahmu di telapak tanganmu? Belumkah? Tak bisa tampak semua itu? Tentu, aku pun yakin. Sebab saban hari kamu memilih bangun dengan segudang barang rongsokan di kepala. Sebelum kamu pergi ke kamar mandi, kamu bercermin, dan menemukan satu lagi kerutan di dahi. Bibirmu juga kering, kau lupa pakai lipbalm . Biarlah, katamu. Biar sepadan dengan kisahmu yang kerontang. Semalam kamu bermimpi buruk. Ada om-om dengan kumis simetris memintamu jadi  sugar baby -nya. Ia bersedia memenuhi seluruh kebutuhanmu asalkan kamu memenuhi seluruh keinginannya. Dan keinginannya hanya satu ini: setiap malam ketika kalian bersama, kamu harus membacakannya cerita-cerita detektif sampai ia benar-benar bisa men...

What's Done Is Done

Gambar
It’s one of my favorite excerpts from Kafka on the Shore by Haruki Murakami. There are so many decisions in life that i still try not to regret. Going through many emotions, such as sadness, happiness, anger, doubt, and thousands of other feelings that ultimately shaped me as who i am today. The younger me was no longer scared to face life and all the roller coasters in it. Life felt easier when you were no longer alive and lost in endless thoughts that didn't really matter. I recently stopped writing for months due to a lot of self-doubt. And now i have embraced that feeling as part of being human. Life is a series of stories that are sometimes full of plot twists, like when I decided to be now. I thought that this wasn't really the plan I wanted. Turned out, after I opened my junior high school album several years ago, I had written that I wanted to be a what I am now.  But it's totally okay! Life isn't what we always want. Sometimes, we just need to accep...

A Poor Roadside

  Bahu jalan kelelahan menanggung beban yang tidak seharusnya. seperti motor-motor yang naik sembarangan lalu memasang muka masam pada pejalan kaki yang punya hak sesungguhnya. Pedagang-pedagang kaki lima bersandar manja di bahu jalan, menyandarkan nasibnya pada bahu jalan. Bahu jalan terluka sana sini, seharusnya kulitnya dijahit agar tetap bisa dilalui. Meski begitu, bahu jalan masih tegap menahan beban, menunggu pemerintah memperbaiki bahu yang kerja di luar batas. Tapi, menunggu memang menjemukan. Jadi, bahu jalan memutuskan untuk kuat saja. Para penghuni negeri tempat bahu jalan yang kuat menampung beban berlebih itu banyak yang ingin juga memutuskan kuat saja.

Satu-satu, Tidak Terburu-buru

  banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. si lambat ini nafasnya mulai memburu, dengar cerita seru, tentang banyak hal yang baru, namun bukan atau belum masuk daftar gapaianku. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. rasanya ingin mengambang di lautan biru, main sama lumba-lumba tanpa perlu berkata saru. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. lambatnya aku bukan karena keliru, apa lagi cuma main-main tapa peluru. peluruku banyak isi seribu. namun keluar satu-satu, tidak terburu-buru. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. namun aku tetap yang nomer satu, diceritaku. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. namun si cemburu tidak bertengger lama, buatku haru. walau lambat, aku suka bilang “hebat kamu si nomer satu”. siapa yang kan memujiku, jika bukan aku siapa yang kan membahagiakanku, jika bukan aku

A Letter of Thanks

Ada hal yang baru benar-benar kupahami setelah ditinggalkan seseorang. Ternyata, yang paling melelahkan bukan kehilangan orangnya, melainkan kehilangan penjelasan yang seharusnya menyertai kepergian itu. Orang-orang sering berkata bahwa hidup memang tidak selalu memberi jawaban. Bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan alasan. Bahwa kadang seseorang pergi begitu saja karena memang sudah waktunya selesai. Aku mencoba mempercayai itu dalam waktu yang lama. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mencoba menjadi dewasa dengan menerima bahwa manusia bisa berubah, bisa lelah, bisa memilih menjauh tanpa banyak kata. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa yang menghancurkan bukan kepergiannya. Yang menghancurkan adalah kehampaan setelahnya. Ruang kosong yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah diberi tempat untuk pulang. Aku pernah bertanya-tanya, apakah aku kurang cukup? Apakah ada hal yang gagal kulakukan? Apakah semua yang pernah diucapkan hanya sementara? Atau memang...

Juli ke Dua Puluh Lima

Saya menulis ini sebagai pengingat bahwa hidup akan terus berjalan dengan umur yang selalu beriringan, selalu ada hal yang saya dapati tiap tahunnya, dan selalu ada yang hilang dari saya tiap tahunnya, dan itu tak apa. Hidup adalah pertarungan melawan ego sendiri. Pengalaman baru, ketidaktahuan pada satu hal, encok di punggung, dan hal-hal lainnya, yang mungkin akan saya rasakan ketika bertambah umur. Di umur yang bertambah keinginan untuk meraih sesuatu mungkin akan menipis. Terlalu idealis kadang juga merepotkan dan menjadi skeptis terkadang diperlukan. Banyak hal yang saya pikir tak usah diperdebatkan terlalu panjang. Pemikiran menjadi lebih sederhana, dan hal-hal yang dulu diperjuangkan menjadi biasa saja. saya pikir itu hanyalah fase dalam hidup. Perkara melawan diri sendiri begitu juga perkara melawan waktu, memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi ternyata perlu, terkadang merasa insecure, terkadang merasa tak berguna dan tak layak, melihat pencapaian seseorang diumur ...