Postingan

A Poor Roadside

  Bahu jalan kelelahan menanggung beban yang tidak seharusnya. seperti motor-motor yang naik sembarangan lalu memasang muka masam pada pejalan kaki yang punya hak sesungguhnya. Pedagang-pedagang kaki lima bersandar manja di bahu jalan, menyandarkan nasibnya pada bahu jalan. Bahu jalan terluka sana sini, seharusnya kulitnya dijahit agar tetap bisa dilalui. Meski begitu, bahu jalan masih tegap menahan beban, menunggu pemerintah memperbaiki bahu yang kerja di luar batas. Tapi, menunggu memang menjemukan. Jadi, bahu jalan memutuskan untuk kuat saja. Para penghuni negeri tempat bahu jalan yang kuat menampung beban berlebih itu banyak yang ingin juga memutuskan kuat saja.

Satu-satu, Tidak Terburu-buru

  banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. si lambat ini nafasnya mulai memburu, dengar cerita seru, tentang banyak hal yang baru, namun bukan atau belum masuk daftar gapaianku. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. rasanya ingin mengambang di lautan biru, main sama lumba-lumba tanpa perlu berkata saru. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. lambatnya aku bukan karena keliru, apa lagi cuma main-main tapa peluru. peluruku banyak isi seribu. namun keluar satu-satu, tidak terburu-buru. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. namun aku tetap yang nomer satu, diceritaku. banyak orang terburu-buru, kadang buat aku cemburu. namun si cemburu tidak bertengger lama, buatku haru. walau lambat, aku suka bilang “hebat kamu si nomer satu”. siapa yang kan memujiku, jika bukan aku siapa yang kan membahagiakanku, jika bukan aku

A Letter of Thanks

Ada hal yang baru benar-benar kupahami setelah ditinggalkan seseorang. Ternyata, yang paling melelahkan bukan kehilangan orangnya, melainkan kehilangan penjelasan yang seharusnya menyertai kepergian itu. Orang-orang sering berkata bahwa hidup memang tidak selalu memberi jawaban. Bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan alasan. Bahwa kadang seseorang pergi begitu saja karena memang sudah waktunya selesai. Aku mencoba mempercayai itu dalam waktu yang lama. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mencoba menjadi dewasa dengan menerima bahwa manusia bisa berubah, bisa lelah, bisa memilih menjauh tanpa banyak kata. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa yang menghancurkan bukan kepergiannya. Yang menghancurkan adalah kehampaan setelahnya. Ruang kosong yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah diberi tempat untuk pulang. Aku pernah bertanya-tanya, apakah aku kurang cukup? Apakah ada hal yang gagal kulakukan? Apakah semua yang pernah diucapkan hanya sementara? Atau memang...

Juli ke Dua Puluh Lima

Saya menulis ini sebagai pengingat bahwa hidup akan terus berjalan dengan umur yang selalu beriringan, selalu ada hal yang saya dapati tiap tahunnya, dan selalu ada yang hilang dari saya tiap tahunnya, dan itu tak apa. Hidup adalah pertarungan melawan ego sendiri. Pengalaman baru, ketidaktahuan pada satu hal, encok di punggung, dan hal-hal lainnya, yang mungkin akan saya rasakan ketika bertambah umur. Di umur yang bertambah keinginan untuk meraih sesuatu mungkin akan menipis. Terlalu idealis kadang juga merepotkan dan menjadi skeptis terkadang diperlukan. Banyak hal yang saya pikir tak usah diperdebatkan terlalu panjang. Pemikiran menjadi lebih sederhana, dan hal-hal yang dulu diperjuangkan menjadi biasa saja. saya pikir itu hanyalah fase dalam hidup. Perkara melawan diri sendiri begitu juga perkara melawan waktu, memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi ternyata perlu, terkadang merasa insecure, terkadang merasa tak berguna dan tak layak, melihat pencapaian seseorang diumur ...

Perjalananku Menemukan Cara Mencintai Diriku

Gambar
"Bagaimana kau akan mencintai orang lain jika mencintai dirimu sendiri saja tidak bisa"      Entah di mana aku pertama kali menemukan kalimat itu. Kalimat yang rasa-rasanya sulit untuk kutelan utuh. Karena, bagaimana bisa aku menyayangi orang lain? Sedangkan mencintai diriku adalah hal yang kurasa paling sulit kulakukan.      Seseorang pernah bertanya padaku tentang apa yang kucintai dari diriku, kelebihan apa yang aku miliki menurutku. Tapi aku bergeming. Aku berusaha mencari-cari kata-kata baik untuk menggambarkan diriku, tapi tidak pernah bisa aku temukan. Dan semua kata-kata yang orang lain susun tentang hal-hal apa yang mesti aku cintai dari diriku terasa asing di dalam telingaku sendiri.      Jika kita kembali pada kalimat bijak kata mereka tentang ke-tidak-bisa-an untuk mencintai orang lain, sebelum mencintai diri sendiri, maka kesimpulannya adalah aku tidak pernah bisa mencintai orang lain. Begitu, kan? But, guess what? I did it anywa...

A Brief Letter to 10-Year-Old Fais: A Self-Reflection of the Past & A Reminder of the Present

  Disclaimer: This is not an inspiring, attractive, or motivational story. This is a story about life. It’s about a wish from a 25-year-old woman if she had a chance to say to a 10-year-old girl. A self-reflection and reminder for many, myself. It’s beyond challenging to blend in and fit in, even in the smallest cluster of society; like your family. For an innocent 10-year-old girl, she thought that her own perception of herself was the worst, but it got even worse when others fed those bad thoughts even more. this 10 year old girl is expected to be a firm eldest child. physically tough, mentally tough. She used to not complaining small grumble, evenmore to cry. Once she started grumbling, she would be blamed for her incompetence. Once she started crying, she would be accused for being a weak child. How are little girls even capable of doing such things? How come? What’s more frustrating is that the  girl couldn’t say a word to defend herself, she was just stunned, unable to e...

TIDAK APA-APA UNTUK MENJADI BUKAN SIAPA-SIAPA

 Ah, sungguh quarter-life crisis ini benar-benar tidak enak. Sungguh dulu kukira hanyalah sebuah keluh kesah manusia remaja menuju dewasa yang terlalu meladeni tuntutan sosial. dulu juga kukira diriku mampu menutup telinga rapat-rapat, menatap lurus ke depan, tanpa menggubris komentar-komentar kanan-kiri yang tidak perlu. Tapi nyatanya setelah benar-benar nyemplung ke sosial, itu tidaklah mudah.  Aku yang dulu penasaran bagaimana rasanya insomnia, kini sudah muak. Setiap malam datang, pikiran lagi dan lagi dipenuhi pertanyaan akan jadi apa aku nanti? akankah orangtuaku merasa bangga dengan apa yang kucapai? Persoalan akan berhasil atau gagal terus memecah pikiranku. Kerisauan yang sama datang dan datang lagi sampai membuat kepala pening, dan akhirnya tertidur. Sungguh ninabobo yang menyeramkan bukan?  Sampai di malam penghujung tahun, malam yang lebih tenang dari malam-malam sebelumnya karena fisik dan pikiran tidak bekerja keras kali ini, menikmati hari libur pendek. Ter...