Postingan

A Letter of Thanks

Ada hal yang baru benar-benar kupahami setelah ditinggalkan seseorang. Ternyata, yang paling melelahkan bukan kehilangan orangnya, melainkan kehilangan penjelasan yang seharusnya menyertai kepergian itu. Orang-orang sering berkata bahwa hidup memang tidak selalu memberi jawaban. Bahwa tidak semua perpisahan membutuhkan alasan. Bahwa kadang seseorang pergi begitu saja karena memang sudah waktunya selesai. Aku mencoba mempercayai itu dalam waktu yang lama. Mencoba terlihat baik-baik saja. Mencoba menjadi dewasa dengan menerima bahwa manusia bisa berubah, bisa lelah, bisa memilih menjauh tanpa banyak kata. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa yang menghancurkan bukan kepergiannya. Yang menghancurkan adalah kehampaan setelahnya. Ruang kosong yang dipenuhi pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah diberi tempat untuk pulang. Aku pernah bertanya-tanya, apakah aku kurang cukup? Apakah ada hal yang gagal kulakukan? Apakah semua yang pernah diucapkan hanya sementara? Atau memang...

Juli ke Dua Puluh Lima

Saya menulis ini sebagai pengingat bahwa hidup akan terus berjalan dengan umur yang selalu beriringan, selalu ada hal yang saya dapati tiap tahunnya, dan selalu ada yang hilang dari saya tiap tahunnya, dan itu tak apa. Hidup adalah pertarungan melawan ego sendiri. Pengalaman baru, ketidaktahuan pada satu hal, encok di punggung, dan hal-hal lainnya, yang mungkin akan saya rasakan ketika bertambah umur. Di umur yang bertambah keinginan untuk meraih sesuatu mungkin akan menipis. Terlalu idealis kadang juga merepotkan dan menjadi skeptis terkadang diperlukan. Banyak hal yang saya pikir tak usah diperdebatkan terlalu panjang. Pemikiran menjadi lebih sederhana, dan hal-hal yang dulu diperjuangkan menjadi biasa saja. saya pikir itu hanyalah fase dalam hidup. Perkara melawan diri sendiri begitu juga perkara melawan waktu, memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi ternyata perlu, terkadang merasa insecure, terkadang merasa tak berguna dan tak layak, melihat pencapaian seseorang diumur ...

Perjalananku Menemukan Cara Mencintai Diriku

Gambar
"Bagaimana kau akan mencintai orang lain jika mencintai dirimu sendiri saja tidak bisa"      Entah di mana aku pertama kali menemukan kalimat itu. Kalimat yang rasa-rasanya sulit untuk kutelan utuh. Karena, bagaimana bisa aku menyayangi orang lain? Sedangkan mencintai diriku adalah hal yang kurasa paling sulit kulakukan.      Seseorang pernah bertanya padaku tentang apa yang kucintai dari diriku, kelebihan apa yang aku miliki menurutku. Tapi aku bergeming. Aku berusaha mencari-cari kata-kata baik untuk menggambarkan diriku, tapi tidak pernah bisa aku temukan. Dan semua kata-kata yang orang lain susun tentang hal-hal apa yang mesti aku cintai dari diriku terasa asing di dalam telingaku sendiri.      Jika kita kembali pada kalimat bijak kata mereka tentang ke-tidak-bisa-an untuk mencintai orang lain, sebelum mencintai diri sendiri, maka kesimpulannya adalah aku tidak pernah bisa mencintai orang lain. Begitu, kan? But, guess what? I did it anywa...

A Brief Letter to 10-Year-Old Fais: A Self-Reflection of the Past & A Reminder of the Present

  Disclaimer: This is not an inspiring, attractive, or motivational story. This is a story about life. It’s about a wish from a 25-year-old woman if she had a chance to say to a 10-year-old girl. A self-reflection and reminder for many, myself. It’s beyond challenging to blend in and fit in, even in the smallest cluster of society; like your family. For an innocent 10-year-old girl, she thought that her own perception of herself was the worst, but it got even worse when others fed those bad thoughts even more. this 10 year old girl is expected to be a firm eldest child. physically tough, mentally tough. She used to not complaining small grumble, evenmore to cry. Once she started grumbling, she would be blamed for her incompetence. Once she started crying, she would be accused for being a weak child. How are little girls even capable of doing such things? How come? What’s more frustrating is that the  girl couldn’t say a word to defend herself, she was just stunned, unable to e...

TIDAK APA-APA UNTUK MENJADI BUKAN SIAPA-SIAPA

 Ah, sungguh quarter-life crisis ini benar-benar tidak enak. Sungguh dulu kukira hanyalah sebuah keluh kesah manusia remaja menuju dewasa yang terlalu meladeni tuntutan sosial. dulu juga kukira diriku mampu menutup telinga rapat-rapat, menatap lurus ke depan, tanpa menggubris komentar-komentar kanan-kiri yang tidak perlu. Tapi nyatanya setelah benar-benar nyemplung ke sosial, itu tidaklah mudah.  Aku yang dulu penasaran bagaimana rasanya insomnia, kini sudah muak. Setiap malam datang, pikiran lagi dan lagi dipenuhi pertanyaan akan jadi apa aku nanti? akankah orangtuaku merasa bangga dengan apa yang kucapai? Persoalan akan berhasil atau gagal terus memecah pikiranku. Kerisauan yang sama datang dan datang lagi sampai membuat kepala pening, dan akhirnya tertidur. Sungguh ninabobo yang menyeramkan bukan?  Sampai di malam penghujung tahun, malam yang lebih tenang dari malam-malam sebelumnya karena fisik dan pikiran tidak bekerja keras kali ini, menikmati hari libur pendek. Ter...

Tell Me How to Fall in Loveđź–¤

Gambar
Saya sedang membaca novel Perfume karya Patrick Suskind saat laki-laki itu mendekat, mengucapkan bahwa selera baca saya bagus. Ucapannya terdengar tulus, kalimatnya disusun seolah ia sedang mengeluarkan madu dan marzipan dari sisi mulutnya—seolah ia sedang menyenandungkan nada-nada. Saat ia mengucapkan itu, saya menahan senyuman, menggigit pipi bagian dalam untuk mencegah diri saya nampak seperti orang tolol. Namun, akhirnya saya tetap mengucapkan terima kasih dengan nada pelan. Beberapa orang memuji karya handlettering saya, sisanya memuji cara saya berpakaian di momen-momen tertentu, tetapi sangat jarang ada orang yang memuji selera buku saya saat itu. Ia adalah orang pertama, dan barangkali itu adalah awal mulanya. Saya pikir, saya telah jatuh cinta. Dalam waktu sekejap, anak laki-laki itu sekonyong-konyongnya menjadi pusat semesta saya. Saat saya menemukan presensinya, dunia seakan mengikuti plot cerita Lady in Disguise , diiringi alunan suara Ilene Woods dengan so this is love-nya...

Mengenal "Eksistensialisme" Sembari Mendefinisikan Ulang Diri

Gambar
  Bagi saya pribadi, teori filsafat  Eksistensialisme  yang dikemukakan  Jean-Paul Sartre  telah menginspirasi banyak pandangan, iman, dan prinsip saya tentang kehidupan — utamanya tentang menjadi manusia yang menjalani hidup. Apa yang menyentak pikiran saya sebenarnya adalah sebuah analogi sederhana tentang konsep Eksistensialisme, yang bisa dibilang juga sebagai pintu masuk bagi ajaran-ajaran Sartre yang lebih kompleks lagi. Dalam teorinya itu ia membandingkan sebuah gunting dengan seorang manusia, di mana perbedaan keduanya didasari pada 2 nilai, yaitu:  Eksistensi  dan  Esensi . Eksistensi  mewakili bentuk, rupa, gagasan, spesifikasi, atau sifat-sifat alamiah yang menempel pada suatu objek. Sedangkan  Esensi  mewakili fungsi, manfaat, atau definisi yang menentukan identitas sebuah objek. Gunting, dalam proses kelahirannya, diawali oleh sebuah gagasan di kepala manusia tentang alat yang dapat memotong kertas, atau tali, atau bend...